Sabtu, 20 Juni 2009

Ratusan Ton Udang Mati

Ratusan Ton Udang Mati
Pemicunya Listrik Pemutar Kincir Air Padam
Bandar Lampung, Kompas - Gara-gara aliran listrik padam selama lima jam, Kamis (18/6) malam, ratusan petambak udang PT Wachyuni Mandira di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, menanggung kerugian sekitar Rp 47,232 miliar menyusul matinya ratusan ton udang dalam tambak karena tak memperoleh suplai oksigen.

Padamnya aliran listrik pada Kamis pukul 18.10 hingga 23.10 itu berakibat tak bekerjanya kincir air di 128 petak tambak yang berfungsi menyuplai oksigen bagi udang yang dibudidayakan.

Tyas Budaya, petambak plasma kerja sama operasional (KSO) PT Wachyuni Mandira (WM) dari blok III jalur 86 nomor 5 serta mengelola tambak nomor 17 dan 18, kehilangan udang di dua petak miliknya seluas 5.000 meter persegi yang sudah berumur 92 hari. ”Tanggal 26 Juni nanti sudah dijadwalkan panen oleh perusahaan,” kata Tyas.

Juanda, petambak plasma program KSO PT Aruna Wijaya Sakti (AWS) dan PT WM—keduanya anak perusahaan PT Central Proteinaprima (CP Prima)—mengemukakan, listrik yang padam itu terjadi di petak tambak yang siap panen.

Menurut Nafian, Ketua Perhimpunan Petambak Plasma Udang Windu PT AWS dan PT WM, para petambak sudah melayangkan surat kepada PT CP Prima dan menuntut ganti rugi. Dengan rata-rata produksi setiap petak tambak sebanyak 4 ton, menurut dia, total produksi yang mati sekitar 500 ton. Saat ini harga pembelian perusahaan Rp 36.000-an per kilogram udang. Karena itu, kerugian nilai panen diperkirakan Rp 47,232 miliar.

Matinya ratusan ton udang diperkirakan akan mengganggu produksi udang nasional 2009 karena PT WM merupakan perusahaan budidaya tambak terbesar di Indonesia dengan luas areal produksi sekitar 32.000 hektar. Adapun petambak plasma non-KSO tercatat 1.600 orang dan petambak plasma KSO 600 orang. Kematian udang diperkirakan menimpa 128 petak tambak yang dikelola 64 petambak plasma KSO dan 200-an petambak non-KSO.

Solusi terbaik

Manajer Komunikasi PT CP Prima Fajar Reksoprodjo, Jumat petang di Jakarta, menjelaskan, peristiwa listrik padam di PT WM itu merupakan insiden.

Pihaknya sedang menelusuri data jumlah tambak udang milik PT WM yang terimbas dan dampaknya terhadap produksi udang. ”Kami masih mencari informasi dari pihak ketiga, yakni pemasok listrik,” kata Fajar.

Menurut dia, akibat listrik padam, dua pihak, yaitu perusahaan (inti) dan plasma, sama-sama dirugikan.

Meski demikian, kegiatan operasional PT WM sudah kembali normal. ”Kami sedang mencari solusi terbaik bagi semua pihak dan saling menguntungkan,” ujar Fajar.

Jumat pagi para petambak terpaksa memanen dini udang- udang mereka. Tindakan memanen itu dilakukan tanpa bantuan tim panen perusahaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar